Delapan langkah penanaman nilai kewirausahaan PDF Print E-mail
Written by indi2000   
Monday, 09 March 2009 10:12
Rumusan nilai-nilai kewirausahaan haruslah menggambarkan pribadi yang integral tidak parsial, karena harus mencerminkan nilai spiritual-religius, yaitu adanya unsur ketauhidan dalam jiwa seorang wirausaha, selain menjadi  Pribadi yang aktif menjalankan bisnis juga harus menimiliki jiwa yang memiliki muatan nilai-nilai  yang bersumber dari agama. Untuk menanamkan jiwa kewirausahaan yang konprehensip maka di perlukan  strategi- strategi sebagai berikut :

1.    Penanaman Niai Keimanan dan Ketakwaan. Penanaman nilai keimanan dan ketakwaan meliputi perbuatan yang berhbungan dengan ibadah maghdlah dan ghairu maghdlah. Penanaman keimanan dan ketaqwaan mencakup ibadah yang berhubungan dengan individu dengan Allah dan ibadah yang berhubungan dengan individu dengan mahkluk yang lainya. Niali niali keimanan dan ketaqwaan ini berlangsung setiap saat baik melalui jalur pengajaran formal maupun melalui jalur latihan latihan yang mengarah pada pembentukan sikap. Sasaran pendidikan diarahkan pada pola berfikir Aqliyah Islam dan Nafsiyah Islam, untuk aqliyqh islam ditanamkan dengan pembelajaran, penambahan dan pengembangan ilmu keislaman. Sedangkan nafsiah islam sebagai aplikasi dari bagian akliah islam dilakukan dengan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari, agar nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan teraplikasi dengan baik, maka harus diciptakan lingkungan yang kondusif. Lingkungan yang kondusif terwujud jika ada system pembiasaan. Hal yang perlu adalah penerapan kedisiplinan yang berlaku pada setiap individu. Untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa tidak cukup dengan pemberian materi pendidikan Islam yang hanya sebatas pengetahuan. Tetapi harus mampu mempengaruhi sikap dan kepribadian. Tauhid adalah inti dari iman dan taqwa dengan kalimat tauhid dapat mendorong kita untuk senantiasa memohon pertolongan hanya kepadaNya sehingga kita tidak menjadikan jalan kesuksesan itu menjadi pemujaan kita dan lupa bahwa sumber dari segala sumber kekuatan adalah Allah. Sebab tidak sedikit orang yang takabur dengan keberhasilannya. Kita diciptakan dengan fitrah dan potensi untuk menjadi khalifah di bumi dan menjadi makhluk bertuhan, oleh karena itu kita jangan menentang fitrah kita sendiri dengan  menghamba kepada sesama makhluk Allah. Dengan memahami nilai-nilai tauhid seorang wirausahawan akan menjadi lebih percaya diri, mandiri dan tinggi  derajat kemanusiaaannya dengan tidak menyembah selain Allah. Berangkat dari semangat tauhid itulah wirausahawan muslim mendapatkan kesadaran  tentang makna kerja sebagai refleksinya adalah kesungguhan dalam bekerja dan hasil kerjanya merupakan bukti kualitas identitas seorang yang beriman dan  bertaqwa kepada Allah.
2.    Percaya Diri dan Keteggguhan Jiwa. Bagi seorang wirausahawan kepercayaan diri sangat penting. Rasa percaya diri tumbuh dalam jiwa seseorang dipengaruhi oleh apa yang dipahami tentang nilai-nilai tauhid. Dengan keyakinan yang kuat pada kekuatan Allah individu merasa tenang karena ia merasa tidak sendiri dalam bekerja dan ia selalu optimis bahwa Allah menolong hambanya yang tulus dalam berbuat. Dengan berdoa dan bekerja sesuai dengan kaidah yang benar niscaya akan memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Semakin kuat keyakinannya, semakin mantap  jiwanya, bukan sebalknya dengan meyakini bahwa Allah superior kita pasrah menjadi kaum fatalis apatis, dengan keyakinan semua sudah diatur oleh Allah. Dengan kalimat laa haula wala quata illa billah, kita telah mmepersiapkan diri dengan ilmu pengetahuan dan ketrampilan akan smakin menambah kepercayaan diri. Akhirnya kita dapat menguasai alam dan dapat memanfaatkan sumberdaya yang gratis yang diberikan allah untuk mahluknya. Orang yang percaya diri yakin bahwa didunia ini tidak ada kesulitan yang tidak ada jalan keluarnya, karena Allah senantiasa memberikan pertolongan kepada hambaNya yang meminta. Percaya diri yang kuat hanya ada pada diri orang yang beriman dan bertaqwa secara sempurna yang didiringi dengan kemampuannaya menguasai ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Maka dari itu kita harus menanamkan terlebih dahulu keimanan baru kemudian ilmu pengetahuan. Orang yang mempunyai kepercayaan diri tngggi akan mamu menyalesaikan tugas dengan sisitematis, terencana, efektif dan efisien. Dengan kepercayaan diri itu pula orang termotivasi untuk tekun, ulet dan bekerja keras. Dengan kepercayaan diri tinggi seseorang siap untuk menanggung resiko, dengan disertai perhitungan yang matang dan rasa optimis. Rasa optimis akan menguatkan keyakinannya dalam mengambil resiko. Orang yang kepercayaan dirinya tinggi akan mampu menyelesaikan pekerjaan atau masalah secara mandiri, tanpa menunggu bantuan orang lain.
3.    Berorientasi pada Tugas dan Hasil. Seorang wirausahawan muslim harus berorientasi pada laba atau profit. Namun hal itu bukan tujuan utama. Yang lebih utama adalah kerja keras dan penuh semangat. Landasan semangat berprestasi seorang wirausahawan muslim adalah ihsan; berbuat yang terbaik bagi diri sendiri dan masyarakat umum. Wirausahawan muslim dalam berbuat mendahulukan prestasi bukan prestise. Prestise bukan sesuatu yang permanen, prestise dapat mendatangkan keangkuhan, kesombongan dan berimplikasi pada sikap merendahkan orang lain. Orang yang mengutamakan prestise, ia akan lambat meraih kesuksesan dalam berbisnis. Sebaliknya orang yang mengejar prestasi dalam bekerja dengan sendirinya prestisenya akan meningkat. Berorientasi pada usaha serta berpegang teguh pada  iman merupakan budaya kerja islam. Berorientasi pada hasil dan prestasi sama artinya dengan usaha memotivasi peningkatan produktifitas. Orang yang produktif adalah orang yang setiap saat berbuat amal kebaikan yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Orang yang beriman akan merasa rugi kalau setiap waktu yang dilaluinya tidak menghasilkan kebaikan.
4.    Keberanian dalam mengambil resiko. Manusia diciptakan Allah untuk mementukan sikap. Setiap manusia harus menanggung resiko dan mempertanggungjawabkan setiap sikap dan perbuatan yang dipilihnya. Jika perbuatan itu berhubungan dengan masyarakat maka ia harus mempertanggung jawabkan kepada masyarakat, jika berhubungan diri sendiri dan Allah, maka ia akan mempertanggungjawabkan kepada Allah kelak. Bagi wirausahawan muslim kemauan dan keberanian dalam mengambil resiko adalah suatu keutamaan. Sebagaimana Allah berfirman bahwa siapa yang banyak berbuat amal kebaikan akan mendapatkan balasan yang lebih baik dan siapa yang santai dan enggan dalam berbuat kebaikan akan menanggung resiko berupa kehianaan. Semakin tinggi resiko yang diambil, semakin besar pula profit yang akan diperoleh. Demikian pula sebaliknya. Agar resiko yang diambil tidak terlalu jauh dari derajat keberhasilan, maka perlu perhitungan yang matang dan realistik. Wirausahawan muslim harus mampu menggunakan resiko dalam rencana pengambilan resiko. Artinya resiko harus dipertimbangkan dengan matang. Dalam pengambilan resiko  ada tiga dimensi batin yang menyertai yaitu niat, kemampuan,  dan perhitungan. Niat sebagai dasar untuk membangkitkan semangat untuk bekerja dengan tujuan ibadah. Kemampuan adalah kekuatan yang berasal dari ilmu pengetahuan dan ketrampilan, sedangkan perhitungan meruoakan citra wawasan berpikir yang dilandasi untung dan rugi.
5.    Kepemimpinan. Fungsi kepemimpinan dalam wirausaha sangat penting. Pemimpin yang efektif adalah yang beriman , kreatif, berprestasi, tegar, tegas, penuh kasih sayang dan beberapa sifat mulia lainnnya. Hal itu bukan hanya berlaku pada wirausahawan saja tetapi juga para pemimpin seperti presiden, bupati, dan lain sebagainya. Pemimpin itu layaknya seorang mujahid, yang senantiasa mempelopori setiap aktifitas. Karena itu ia mampu memimpin usahanya dalam bayang–bayang hukum Allah. Artinya seluruh hasil usahanya harus  bisa dipertanggungjawabkan secara hukum islam yang mempunyai nilai universal.
6.    Berorientasi pada masa depan. Berorientasi kedepan adalah sikap seorang wirausahawan yang sehat akalnya. Usaha di dunia ini pada saatnya akan berakhir, karena sifatnya yang fana. Sekalipun demikian, kita harus menjadikan bisnis itu sebagai bisnis permanen dalam ukuran dunia. Sehingga produk yang kita hasilkan itu dapat menjadi bekal dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, untuk kita sendiri dan orang lain. Wirausahawan muslim harus berwawasan makro, ia harus mampu mengelanakan pemikiran dan hatinya sejauh mungkin, tidak terbatas pada aktifitas bisnisnya saja, namun ia juga berfikir bahwa usaha yang digeluti tidak akan berlanjut sampai di yaumul qiyamah, kita hanya akan membawa amal kebaikan saja, yakni hasil kerja yang bermanfaat untuk lingkungan yang dalam keseluruhan prosesnya berorientasi pada ibadah, yang berkonskuensi pada terpatuhinya hukum Islam.
7.    Kreatif dan Inovasi. Kreatif dan inovasi adalah bagian dari ciri penting seorang wirausahawan. Wirausahawan yang kreatif adalah mereka yang selalu mengerjakan sesuatu dengan niat yang baru, sekalipun jenis produk lama. Daya kreatif merupakan pribadi yang tidak pernah puas dengan hasil dan cara yang dilakukan. Jadi seorang  wirausahawan muslim tidak bolah pernah ada kata puas untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan terus berbuat kebaikan yang baru lagi. Barang siapa yang puas dengan apa yang dihasilkan bertanda akan matinya daya kreatifitasnya.
8.    Silaturrahim. Silaturrahim dalam bahasa orang inggris adalah social relationship yang sring digunakan dalam sosiologi hubungan manusia dalam masyarakat. Wirausahawan muslim tentunya sangat memahami bahwa silaturahmi adlah cara saling tukar menukar informasi dan saling mempengaruhi. Dalam bisnis hubungan antara individu dengan masyarakat sangat berarti. Masyarakat adalah sasaran dari aktifitas bisnisnya, maka dari itu pengusaha mesti memahami psikologinya. Banyak cara yang dilkukan manusia dalam membina hubungan antar sesama agar ada saling pengertian. Misalnya menjalin hubungan dengan mitra bisnis dengan cara menjamunya dengan hidangan maupun makanan yang lezat ditempat yang mewah, pelayanan yang eksklusif. Sedangkan silaturahmi dalam Islam tidak didasarkan pada pandangan untung dan rugi. Silaturahmi adalah hubungan yang didasarkan pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak akan ada artinya tanpa orang lain. Pandangan ini mempengaruhi cara dalam bersilaturahmi. Ia akan mengadakan hubungan sekalipun tidak dalam kepentingan bisnis. Dalam Islam mengenal istilah waktu adalah ibadah, karena dalam setiap waktu dilalui dengan aktifitas yang merupakan ibadah. Sehingga dalam realisasi berhubungan dengan masyarakat dilakukan dengan pola kata dan pola tindak yang mengalir dari rasa kasih dan sayang. Penuh rasa hormat dan menghargai satu sama lain. Adapun bentuk interaksi sosial yang dilakukan diarahkan sebagai ibadah. Dengan demikian, perilaku itu bukan saja akan mendapatkan pahala, tapi juga mendapatkan mendapatkan pengalaman baru dan secara garadual akan menciptakan lingkaran pengaruh yang akan melahirkan ikatan kepentingan saling menguntungkan dan intimensi antara kita produsen dan masyarakat sebagai konsumen.
Last Updated ( Monday, 09 March 2009 10:19 )
 

Galery

INSPIRING STORY

Stop
Play
  • Keindahan Akhlaq Manusia Pilihan Setelah Rasulullah saw wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; ant...Friday, 03 May 2013
    By - indi2000 - Hits: 1672
  • Puncak Ketinggian Kedudukan Nabi Muhammad SAW telah direndahkan oleh musuhnya ke titik terendah. Duka dan kesedihan ya...Tuesday, 25 June 2013
    By - indi2000 - Hits: 1702
  • MENANG DENGAN SATU JURUS Chen adalah seorang remaja pria yang tinggal di Hawaii. Tidak seperti orang normal, ia hanya mempuny...Thursday, 23 May 2013
    By - indi2000 - Hits: 1793
  • KISAH SEUNTAI KALUNG EMAS Pada saat Rasulullah SAW sedang berkumpul bersama para sahabatnya di dalam masjid selepas mengerjaka...Wednesday, 17 April 2013
    By - indi2000 - Hits: 1800